اَلۡعَقِيۡقَةُ

إِذَا وُلِدَ مَوۡلُودٌ فَيُسَنُّ لِوَالِدِهِ أَنۡ يَذۡبَحَ شَاةً فِي الۡيَوۡمِ السَّابِعِ مِنۡ وِلَادَتِهِ فَإِنۡ كَانَ ذَكَرًا يَذۡبَحُ عَنۡهُ شَاتَيۡنِ أَوۡ أُنۡثَى يَذۡبَحُ عَنۡهَا شَاةً وَهٰذَا يُسَمَّى الۡعَقِيۡقَةَ.

وَيُشۡتَرَطُ أَنۡ تَكُوۡنَ الذَّبِيحَةُ فِي الۡعَقِيقَةِ مُجۡزِئَةً فِي الۡأُضۡحِيَّةِ.

وَيُسَنُّ أَلَّا يُكۡسَرَ عَظۡمُ الذَّبِيحَةِ، وَأَنۡ تُطۡبَخَ لُحُومُهَا وَيُطۡعَمَ بِهَا الۡفُقَرَاءُ كَالۡأُضۡحِيَّةِ، وَإِرۡسَالُهَا إِلَيۡهِمۡ أَوۡلَى مِنۡ أَنۡ نَدۡعُوَهُمۡ

وَيُسَنُّ بَعۡدَ ذَبۡحِ الۡعَقِيقَةِ أَنۡ نَحۡلِقَ رَأۡسَ الۡمَوۡلُوۡدِ ثُمَّ نُسَمِّيَهُ بِاسۡمٍ حَسَنٍ كَمُحَمَّدٍ وَمَحۡمُودٍ وَأَحۡمَدَ وَغَيۡرِهِ، وَتُكۡرَهُ التَّسۡمِيَةُ بِالۡأَسۡمَاءِ الۡقَبِيحَةِ كَكَلۡبٍ وَجَامُوسٍ.

وَيُسَنُّ أَنۡ يُؤَذِّنَ فِي أُذُنِ الۡمَوۡلُودِ الۡيُمۡنَ وَيُقِيمَ فِي الۡأُذُنِ الۡيُسۡرَى عَقِبَ الۡوِلَادَةِ وَأَنۡ يُحَنِّكَ الۡمَوۡلُودَ بِالۡعَسَلِ بَعۡدَ الۡأَذَانِ وَالۡإِقَامَةِ.

وَالۡعَقِيقَةُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ قَالَ النَّبِيُّ : كُلُّ غُلَامٍ مُرۡتَهَنٌ بِعَقِيۡقَتِهِ تُذۡبَحُ عَنۡهُ يَوۡمَ سَابِعِهِ وَيُحَلَّقُ وَيُسَمَّى.



AQIQAH

Apabila telah lahir seorang anak, maka disunnahkan kepada orang tuanya untuk menyembelih kambing pada hari ke tujuh sejak kelahiran anaknya. Jika anaknya adalah laki-laki maka yang disembelih adalah dua ekor kambing, jika perempuan maka menyembelih satu ekor kambing, dan inilah yang disebut dengan aqiqah.

Disyaratkan untuk hewan yang akan disembelih untuk aqiqah itu setara dengan hewan untuk kurban.

Dan disunnahkan untuk tidak memperbanyak pecahan tulangnya, kemudian dimasak dagingnya lalu diberilah makan orang-orang fakir dengannya seperti halnya ibadah kurban, mengirimkan dagingnya kepada mereka lebih diutamakan daripada mengundang mereka.

Disunnahkan setelah menyembelih hewan aqiqah supaya kita mencukur rambut anak dan memberinya nama dengan nama yang baik seperti Muhammad, Mahmud, Ahmad atau selainnya. Dimakruhkan untuk menamai anak dengan nama yang buruk seperti Anjing atau Kerbau.

Disunnahkan untuk meng-adzankan di telinga kanan anak yang lahir itu dan iqamah di telinga kirinya setelah kelahirannya; dan hendaknya melakukan tahnik untuk bayi dengan madu setelah diadzankan dan diiqamahkan.

Hukum aqiqah adalah sunnah muakkad sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih di hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Ibnu Majah: 3165).


P E N J E L A S A N

1. Hukum Aqiqah

Hukum aqiqah adalah sunnah muakkad sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan ini sudah menjadi ijma' (kesepakatan) para ulama.

Orang yang dibebankan melaksanakan aqiqah adalah sang ayah. Maka, ibu dan sang anak tidak dibebani untuk menunaikan aqiqah.

2. Waktu Pelaksanaan

Waktu yang paling utama untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ke-7 kelahiran, dan hari lahirnya sudah dihitung sebagai hari pertama.

Jika belum mampu melakukan aqiqah pada hari ke-7 maka boleh dilakukan pada hari ke-14. Jika belum mampu maka boleh pada hari ke-21. Jika belum mampu juga, maka aqiqah boleh dilaksanakan kapan saja.

Jika aqiqah belum ditunaikan hingga sang anak berusia baligh, maka sangat dianjurkan bagi ayahnya untuk melaksanakan aqiqah untuk anaknya tersebut.

3. Aqiqah untuk Diri Sendiri

Ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.
Pendapat pertama: Dianjurkan untuk melakukan aqiqah untuk diri sendiri.
Pendapat kedua: Tidak perlu melakukan aqiqah untuk diri sendiri.

Ibnu Qudamah berkata:
"Jika belum diaqiqahi sama sekali, kemudian baligh dan telah bekerja, maka dia tidak wajib untuk beraqiqah untuk dirinya sendiri."

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya masalah ini dan beliau menjawab:
"Itu adalah kewajiban orang tuanya, maka tidak wajib aqiqah untuk diri sendiri. Karena yang lebih sesuai sunnah adalah dibebankan kepada orang lain, yaitu ayahnya."

Sementara Imam Atha' dan Hasan al-Bashri berkata:
"Dia boleh mengaqiqahi diri sendiri, karena aqiqah itu dianjurkan baginya dan dirinya tergadai dengan aqiqahnya, maka dia dianjurkan untuk membebaskan dirinya."

Imam Ahmad melanjutkan:
"Sedangkan menurut pendapat kami, aqiqah disyariatkan untuk dilakukan oleh ayahnya, oleh sebab itu orang lain tidak perlu menggantikannya." (Al-Mughni, 9/364).

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengumpulkan beberapa pendapat tentang masalah ini dalam "Bab hukum untuk orang yang belum diaqiqahi ayahnya, apakah dia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri setelah baligh?" Di antaranya adalah pendapat dari al-Khalal yang mengatakan, "dianjurkan bagi orang yang belum diaqiqahi waktu kecil supaya mengaqiqahi diri sendiri setelah dewasa."

Kemudian terdapat tanya jawab antara Isma'il bin Sa'id asy-Syalinji kepada imam Ahmad bin Hanbal, "Saya bertanya kepada Ahmad tentang orang yang diberitahu ayahnya bahwa dirinya belum diaqiqahi, bolehkan mengaqiqahi diri sendiri?" Imam Ahmad menjawab, "Itu adalah kewajiban ayahnya."

Dalam kitab Al-Masail yang ditulis oleh al-Maimuni bahwa ia pernah bertanya kepada imam Ahmad, "Jika seseorang belum diaqiqahi, bolehkan ia beraqiqah untuk diri sendiri setelah dewasa?"
Lantas imam Ahmad menyebutkan riwayat tentang aqiqah setelah dewasa dan mengatakan bahwa riwayat itu dha'if, lalu berkata: "Jika ada orang yang melaksanakannya, saya tidak membencinya."

Abdul Malik juga pernah bertanya kepada Imam Ahmad, "Bolehkan seseorang beraqiqah setelah dewasa?" Imam Ahmad menjawab, "Saya sama sekali belum pernah mendengar hadits tentang aqiqah setelah dewasa."

Abdul Malik bertanya lagi, "dulu ayahnya tidak punya (harta), lalu setelah kaya dia tidak mau membiarkan anaknya hingga diaqiqahi?"

Imam Ahmad menjawab, "Saya tidak tahu. Saya sama sekali belum mendengar hadits tentang aqiqah ketika dewasa... Siapa yang melakukannya, maka itu baik, dan ada sebagian ulama yang mewajibkannya." (Tuhfatul Maudud, hlm. 87-88)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata:
"Pendapat pertama yang lebih utama, yaitu dianjurkan untuk melakukan aqiqah untuk diri sendiri, karena hukum aqiqah adalah sunnah muakkad. Jika orang tuanya tidak mampu melaksanakannya, maka disyariatkan untuk melaksanakannya setelah mampu. Ini berdasarkan keumuman banyak hadits, diantaranya sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berikut:

كُلُّ غُلَامٍ مُرۡتَهَنٌ بِعَقِيۡقَتِهِ تُذۡبَحُ عَنۡهُ يَوۡمَ سَابِعِهِ وَيُحَلَّقُ وَيُسَمَّى.

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih di hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Ibnu Majah: 3165).

Termasuk juga hadits Ummu Kurzin, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk memberikan aqiqah bagi anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan dengan satu ekor kambing, hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasa`i, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Demikian pula at-Tirmidzi meriwayatkan yang semisal dari Aisyah, dan ini tidak hanya ditujukan kepada sang ayah, sehingga mencakup anak, ibunya dan yang lainnya yang masih kerabat dari bayi tersebut." (Majmu' Fatawa Ibnu Baz, 26:266).

* * *

Allahu A'lam...

Demikian terjemah dan penjelasan kitab Fiqh Wadhih Bab Aqiqah.